Anak-Anak dan Seni Instalasi di Ruang Publik Pekanbaru

Sore di tepi Jalan Diponegoro, Pekanbaru, udara masih lengket oleh sisa panas siang. Saya menunggu hujan reda bareng keponakan kecil, lalu ia mendadak berhenti di depan bentuk besi berwarna terang yang dipasang di area terbuka dekat taman. Ia tidak tanya siapa senimannya atau apa judul karyanya.
Ia cuma muterin benda itu pelan, nyentuh bayangannya di lantai, lalu bilang, “Ini seperti rumah robot.” Kalimat sesederhana itu ngingetin saya lagi kenapa seni instalasi di ruang publik bekerja beda dibanding karya di galeri. Karya seperti ini tidak nunggu orang datang dengan persiapan khusus. Ia hadir di tengah lalu lintas, langkah kaki, pedagang minuman, anak kecil yang penasaran, dan orang dewasa yang kadang terlalu cepat lewat.
Ruang Publik sebagai Tempat Anak Bertemu Imajinasi
Sejak 2022 saya mulai menulis soal seni. Tinggal di Pekanbaru bikin saya sering merhatiin cara warga memakai ruang bersama. Ada yang datang ke taman buat olahraga, ada yang duduk sebntar sebelum pulang kerja, ada juga keluarga muda yang ngajak anak-anaknya lari-larian setelah seharian di rumah.
Di tempat seperti itu, seni instalasi bisa jadi jeda kecil.
Berbeda dari patung monumen yang biasanya berdiri dengan pesan resmi, seni instalasi lebih sering ngajak orang masuk ke pengalaman. Bentuknya bisa rangka bambu, susunan cahaya, kain yang bergerak kena angin, suara yang muncul saat orang melintas, atau objek daur ulang yang disusun jadi ruang kecil. Menurut penjelasan umum tentang seni instalasi, karya jenis ini memang mempertimbangkan ruang sebagai bagian penting dari pengalaman melihat. Bagi anak-anak, pengalaman ini seringnya tidak dibaca sebagai “seni”. Mereka bisa lihat itu sebagai lorong, sarang, kapal, atau awan yang jatuh ke tanah. Justru di situlah menariknya. Seni instalasi di ruang publik ngasih kesempatan anak menamai sesuatu dengan bahasa mereka sendiri, tanpa takut salah.
.
Saya pernah lihat seorang ibu, masih pakai tanda pengenal kantor, berhenti sebntar bareng anaknya di area terbuka. Anak itu nunjuk instalasi berbentuk anyaman besar dan nanya apakah bendanya bisa dimasuki. Ibunya gak langsung kasih penjelasan panjang. Ia cuma jawab, “Kita lihat dari dekat, ya.”
Buat saya, momen begitu lebih berharga daripada ceramah seni yang terlalu rapi. Rasa ingin tahu dapet ruang, tanpa diburu harus selalu benar.
Seni Instalasi Tidak Harus Dijelaskan Terlalu Cepat
Orang dewasa sering merasa perlu buru-buru ngasih arti: ini simbol apa, maksudnya apa, siapa pembuatnya, kenapa bentuknya begitu. Padahal waktu bareng anak, apalagi di ruang publik, saya malah belajar nahan diri. Tidak semua pengalaman harus langsung diterjemahkan.
Di Pekanbaru, anak-anak terbiasa dengan ruang yang berubah cepet. Ruko baru muncul, jalan diperlebar, taman diperbaiki, spanduk berganti. Seni instalasi bisa bantu mereka sadar kalau ruang kota bukan cuma tempat lewat, tapi juga tempat merasakan. Ada tekstur, cahaya, jarak, bayangan, juga suara.
Biasanya saya mulai dari pertanyaan sederhana, bukan buat nguji, tapi buat ngebuka percakapan.
- “Kalau benda ini bisa berbicara, kira-kira suaranya seperti apa?”
Satu pertanyaan kadang udah cukup. Anak bisa jawab panjang, bisa juga cuma ketawa. Gak apa-apa. Yang penting, karyanya gak diperlakukan kayak benda mati yang harus dipahami dengan cara orang dewasa saja.
Hal lain yang gak kalah penting adalah batas aman. Seni instalasi di ruang publik memang menggoda buat disentuh atau dimasuki, tapi tidak semua karya dirancang untuk itu. Saya pernah ngingetin anak yang mau manjat bagian besi karena permukaannya licin habis hujan. Kita tetap bisa ngasih kebebasan melihat, muterin, atau foto, sambil jelasin bahwa karya orang lain perlu dijaga. Dari situ, anak belajar ruang bersama punya aturan yang lahir dari rasa hormat, bukan sekadar larangan.
Dari Pekanbaru, Kita Bisa Membiasakan Cara Melihat yang Lebih Pelan
Pekanbaru terus tumbuh. Karena itu, kota ini punya banyak ruang yang bisa jadi tempat pertemuan warga dan karya seni. Saya ngebayangin bakal ada lebih banyak instalasi temporer di taman, halaman perpustakaan, kawasan tepian sungai, atau area publik yang sering dilewati keluarga. Tidak harus mahal atau megah. Karya yang peka terhadap cuaca, budaya setempat, dan kebiasaan warga biasanya justru terasa lebih dekat.
Seni instalasi di ruang publik juga bisa jadi jembatan antargenerasi. Orangtua mungkin melihat material bekas, anak melihat istana. Seniman mungkin bicara soal lingkungan, pedagang sekitar melihat peluang orang berkumpul. Semua tafsir itu bisa hidup berdampingan, selama ruangnya dirawat dan gak bikin warga merasa tersingkir.
Sudut pandang berbeda di parenting.
Saya percaya, ngenalin anak ke seni gak harus dimulai dari museum yang jauh atau istilah yang rumit. Kadang cukup berhenti lima menit di depan karya yang kita temui di jalan, lalu biarkan anak bertanya dengan caranya sendiri.
Di antara panas Pekanbaru, suara kendaraan, dan langit yang tiba-tiba mendung, sebuah instalasi bisa jadi alasan kecil untuk melambat. Dari langkah yang melambat itu, kita belajar melihat kota bukan cuma sebagai tempat tinggal, tapi sebagai ruang yang bisa dirasakan bersama.
Referensi: sumber resmi.
Untuk konteks lebih: sumber resmi
