Parenting ParentingCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
parenting

Mengapa Anak Tantrum? Pendekatan Praktis untuk Orangtua

Tantrum pada balita bukan sekadar drama. Pelajari pemicu dan langkah praktis menghadapinya tanpa stres. Dari pengalaman orangtua di Pulaukisar.

12 May 2026 · 2 menit baca · oleh Irma Pratiwi Nugroho
Mengapa Anak Tantrum? Pendekatan Praktis untuk Orangtua

Suara tangis melengking dari balita di tengah keramaian pasar membuat saya menarik napas panjang. Dulu saya langsung panik dan memarahi anak, lalu muncul rasa bersalah sepanjang hari. Tapi setelah 8 tahun menjadi ibu—dan penulis—di Pulaukisar, saya pelan-pelan belajar bahwa tantrum bukan serangan pribadi, melainkan sinyal darurat sistem saraf anak yang belum matang. Ketika kita memahami pemicunya, reaksi kita bisa berubah dari reaktif menjadi responsif.

Memahami Pemicu Tantrum

Tantrum paling sering terjadi saat anak lelah, lapar, atau kelebihan stimulasi. Anak balita belum mampu mengelola emosi seperti orang dewasa; amigdala mereka bekerja lebih cepat daripada korteks prefrontal. Dalam praktik sehari-hari, saya menerapkan dua strategi sederhana: observasi pola dan pencegahan. Misalnya, jika anak saya selalu tantrum menjelang jam makan siang, saya pastikan ada camilan kecil sebelum keluar rumah. Atau ketika ia mulai merengek di toko mainan, saya langsung mengalihkan perhatian ke benda lain, bukan menuruti tuntutannya Sebelumnya saya menulis tentang parenting.

Teknik yang paling membantu saya adalah "co-regulation": tetap tenang, duduk sejajar, dan memberikan pelukan tanpa kata-kata. Riset dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa respons hangat orangtua mengurangi durasi tantrum secara signifikan. Sumber: IDAI.or.id - Mengelola Tantrum pada Anak. Yang tak kalah penting, saya mengajak suami untuk konsisten menerapkan aturan yang sama, sehingga anak tidak bingung dengan sinyal campuran.

Salah satu jebakan terbesar adalah membandingkan anak dengan tetangga atau saudara. "Anak si Budi tidak pernah tantrum, kok kamu susah sekali?" Cara ini hanya menambah frustrasi orangtua dan membuat anak merasa tidak diterima. Saya lebih memilih mencatat pemicu khas anak saya—hari apa, jam berapa, situasi apa—dan mendiskusikannya dengan suami sebagai data, bukan kegagalan.

Penutupnya sederhana: tantrum akan berlalu. Ketika kita berhenti mengejar solusi instan dan mulai mendengarkan apa yang ingin disampaikan anak, hubungan kita dengan mereka justru semakin kuat. Saya sendiri masih harus mengingatkan diri setiap hari: parenting praktis bukan tentang sempurna, melainkan tentang hadir.

Ilustrasi seorang ibu duduk di lantai memeluk anak balita yang menangis

Catatan: sumber resmi

Tag: #parenting #tantrum #balita #tips praktis