Parenting ParentingCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
parenting

Mengapa Anak Sering Tantrum? Analisis Emosi Balita untuk Orangtua Muda

Pahami penyebab tantrum pada balita dari sudut pandang analitis dan rasa ingin tahu. Simak pengalaman orangtua di Pulaukisar dan cara menghadapinya.

24 Apr 2026 · 2 menit baca · oleh Irma Pratiwi Nugroho
Mengapa Anak Sering Tantrum? Analisis Emosi Balita untuk Orangtua Muda

Beberapa bulan lalu, di sebuah sore yang panas di Pulaukisar, putri saya yang baru berusia dua tahun tiba-tiba berguling di lantai sambil menangis keras. Saya sempat bingung dan sdikit frustrasi, namun sebagai orangtua yang sudah delapan tahun menulis soal pengasuhan, rasa ingin tahu saya justru lebih besar daripada kekesalan. Kenapa anak saya yang biasanya ceria bisa berubah drastis hanya karna saya menolak memberinya biskuit sebelum makan malam? Pertanyaan itu mendorong saya untuk menggali lebih dalam soal emosi balita.

Di sudut lain, saat saya membaca literatur dari Wikipedia Indonesia tentang temper tantrum, saya menemukan bahwa amukan ini umum terjadi pada usia 1–3 tahun. Ini jadi bagian normal dari proses belajar mengelola emosi. Di Pulaukisar, saya sering melihat anak-anak seusia itu marah di pasar atau di halaman rumah. Orangtua di sini biasanya bereaksi dengan dua cara: memarahi atau langsung mengabulkan permintaan. Keduanya jarang efektif dalam jangka panjang.

Memahami Pemicu Tantrum

Tantrum bukanlah perilaku yang disengaja untuk membuat orangtua kesal. Dari sudut pandang perkembangan anak, balita belum punya kemampuan bahasa dan regulasi emosi yang cukup untuk mengungkapkan keinginan atau kekecewaan mereka. Saya kemudian menerapkan pendekatan analitis sederhana. Setiap kali putri saya mulai menunjukkan tanda-tanda marah, saya mencatat apa yang terjadi sebelumnya. Apakah ia lelah? Lapar? Atau sekadar tidak mendapat perhatian penuh saya? Saya mendapati bahwa tantrum sering kali dipicu oleh ketidakmampuan anak menghadapi transisi—misalnya saat harus berhenti bermain dan pergi mandi.

Saya mulai mengubah rutinitas kami. Memberi aba-aba lima menit sebelumnya, lalu perlhan mengajaknya beralih aktivitas dengan cara yang menyenangkan. Frekuensi tantrumnya berkurang perlahan. Tentu, tidak semua tantrum bisa dicegah. Yang paling membantu adalah mengingatkan diri sendiri bahwa ini bukanlah perlawanan terhadap otoritas saya, melainkan ledakan emosi yang perlu dituntun.

Alih-alih berteriak, saya sekarang lebih sering berjongkok, menatap matanya, dan berkata dengan tenang, "Ibu tahu kamu kecewa. Mari kita tarik napas sama-sama." Respons itu lebih sering mengurai kekacauan daripada hukuman atau hadiah instan. Setiap orangtua di Pulaukisar maupun di kota mana pun bisa mencoba pendekatan penuh rasa ingin tahu ini—mengamati, bertanya, lalu menyesuaikan respons—untuk menjadikan momen tantrum sebagai peluang belajar bersama, bukan medan pertempuran.

Catatan: sumber resmi

Tag: #tumbuh kembang #tantrum #emosi balita